MEDIA TERHUBUNG – Hujan menjadi harapan bagi masyarakat yang berada di sekitar wilayah kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Turunnya hujan diharapkan dapat membantu memadamkan api, membasahi lahan yang mengering, serta mengurangi kabut asap. Namun, bagi masyarakat yang menggantungkan penghasilan pada aktivitas sehari-hari di luar ruangan, hujan justru dapat menjadi hambatan dalam bekerja.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa satu fenomena alam dapat menghadirkan dampak yang berbeda bagi kehidupan masyarakat. Bagi warga yang terdampak karhutla, hujan membawa harapan akan membaiknya kondisi lingkungan dan kualitas udara. Sementara itu, bagi pedagang kaki lima, pengemudi ojek daring, dan pekerja lapangan, hujan berpotensi mengurangi aktivitas serta pendapatan harian.
Curah Hujan Berpengaruh terhadap Risiko Karhutla
Harapan masyarakat terhadap hujan berhubungan dengan perannya dalam mengurangi kondisi kering yang mendukung terjadinya kebakaran hutan dan lahan.
Penelitian Agysta Zaskia, Bambang Hero Saharjo, dan Israr Albar yang diterbitkan dalam Journal of Tropical Silviculture pada 2023 meneliti hubungan curah hujan dengan kejadian karhutla di Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan, selama periode 2018–2020.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan adanya hubungan negatif antara curah hujan dan jumlah titik panas (hotspot). Artinya, dalam periode penelitian tersebut, curah hujan yang lebih rendah berkaitan dengan meningkatnya jumlah titik panas. Fenomena El Niño juga dikaitkan dengan tingginya kejadian kebakaran pada 2019.

