TERHUBUNG MEDIA - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Sudaryono menyebut kasus keracunan yang terjadi dalam pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) disebabkan oleh ketidaktaatan terhadap standar operasional prosedur (SOP). Pernyataan tersebut disampaikan menyusul pada kejadian keracunan MBG yang baru saja terjadi di sejumlah wilayah, termasuk Sidoarjo.
Mengutip pada lama Republika, Kasus dugaan keracunan setelah mengonsumsi makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali terjadi di sejumlah daerah pada awal September 2026. Dalam kurun 1–3 September, dugaan keracunan MBG terjadi di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Barat, hingga Sulawesi Selatan. Total ribuan siswa, santri, guru, dan penerima manfaat mengalami gejala seperti mual, pusing, hingga diare.
Kasus pertama terjadi pada Selasa, 1 September 2026, di Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Ratusan santri Pondok Pesantren Manbaul Hikam, Tanggulangin, serta siswa dari sejumlah lembaga pendidikan yang menerima makanan dari SPPG Kalitengah mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap menu MBG.
Per September, Jumlah korban terus bertambah seiring pendataan. Pada 2 September, Dinas Kesehatan Sidoarjo mencatat 566 korban, dengan puluhan orang masih menjalani perawatan. Sehari kemudian jumlah korban yang terdata meningkat menjadi sekitar 730 orang. Sebanyak 706 orang telah diperbolehkan pulang untuk menjalani pengobatan jalan, 23 orang masih dirawat inap, dan satu orang berada dalam observasi.
Menurut Pernyataan Kepala BGN, melihat pemetaan terhadap kasus keracunan yang terjadi, sekitar 80-90% di antaranya berkaitan dengan pelanggaran SOP. Hal itu mencakup proses penyimpanan makanan, penerimaan bahan pangan, hingga pengaturan suhu dan waktu konsumsi.
“Dari kasus keracunan yang ada itu kalau kita breakdown, itu 80-90% tuh karena tidak taat SOP. Tidak taat SOP penyimpanan, tidak taat SOP pada saat dia penerimaan barang, tidak taat SOP terkait suhu dan waktu konsumsi, waktu konsumsi, batas konsumsi waktu, dan seterusnya. Itu mayoritas itu,” kata Sudaryono di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (3/9).

